Kamis, 02 Juni 2011

Novel Shiver


Shiver berkisah tentang para manusia serigala. Tapi beda dengan makhluk mistis yang sering muncul di novel-novel fantasy, manusia serigala di Shiver nggak berubah karena siklus bulan. Mereka berubah menjadi serigala karena suhu dingin. Mereka juga bukan makhluk super yang hanya bisa dijatuhkan dengan peluru atau serbuk perak. Manusia serigala bikinan Maggie Stiefvater bisa mati. Dan itu cukup dengan cara-cara lumrah seperti cara serigala atau manusia mati. Ditembak (peluru biasa), ditusuk, penyakit, dll. Meski kemampuan menyembuhkan diri yang cepat banget masih dipertahankan Miss Stiefvater.
Sam adalah manusia serigala yang mulai berubah sejak ia berusia tujuh tahun, dan kedua orangtuanya dulu bertekad membunuhnya karena hal itu. Grace adalah gadis kota kecil yang pernah digigit manusia serigala, tapi ia berhasil lolos dari kutukan menjadi manusia serigala. Mereka bertemu setiap musim dingin, dan itu berlangsung hingga enam tahun saat Grace menemukan Sam berlumuran darah di depan pintu rumahnya. Saat itu Sam dalam wujud manusia. Pengenalan Grace hanya dari warna mata Sam saja. Hubungan mereka berawal dari situ.
Dalam dongeng setebal 432 halaman ini (terjemahan), kisah asal mula bertemunya Sam dengan kawanan, hubungan antar anggota kawanan, dan pertemanan Grace dengan teman-teman sekolahnya menjadi warna utama di samping perburuan Sam dan Grace mencari seorang manusia serigala baru yang kondisinya belum stabil.
Kondisi tubuh Sam yang mulai terlalu nyaman dengan cuaca juga menjadi masalah. Karena itu berarti sisi serigalanya akan semakin menguat. Di satu titik, saat serigala dalam diri seseorang menjadi pemenang, maka orang itu akan selamanya menjadi serigala. Dan Sam sedang dalam fase akhir kehidupan manusianya.
Membaca novel ini membawaku pada aura muram, sedih, indah, puitis. Cara dan alurnya terasa berhati-hati. beda dengan novel-novel YA yang biasanya heboh hingga akhir cerita. Mengingatkanku pada perasaan setelah aku baca karya sastra (bukannya aku sering berinteraksi dengan bacaan jenis ini ya!). Karena terus terang saja, aku kurang suka karya sastra. Aku baca novel-novel berbobot sastra tinggi hanya jika itu jadi projek kuliah, atau jika pekerjaan menuntutku membaca sebagai tambahan insight. Bagiku (generalisasi) karya sastra selalu menyisakan kernyitan di jidat setelah aku membacanya. Membuatku berpikir lebih jauh, membuatku merenung lebih dalam. Padahal fungsi novel kan untuk refreshing. Jadi … sejauh ini aku mending pilih jenis bacaan yang dianggap kitsch saja deh. Lebih aman.
Balik ke novel ini, cara tutur yang digunakan Maggie Stiefvater agak-agak berbeda dengan para penulis genre YA lainnya. Aku nggak tau apa yang ada di pikiran Miss Stiefvater saat menulis Shiver, tapi sepertinya ia membukakan keran sastra sedikit bagi peminat YA. Hanya sedikit, sehingga tidak membuat kita megap-megap tenggelam dalam lautan pemikiran yang mendalam, tapi cukup banyak untukku mau mencoba mempertimbangkan sastra lagi sebagai bahan bacaan ringan.
Kayaknya Shiver bakal diikuti dengan sekuel-sekuel. Saat ini saja sudah muncul Linger dan bakal ada Forever sebagai bagian dari series Wolves of Mercy Falls.

Judul: Shiver/Beku
Pengarang: Maggie Stiefvater

Tidak ada komentar:

Posting Komentar